Kajian Tematik: Menegakkan Salat

Pemateri: Ustadz Ziyad Muhammad, Lc
Tanggal: 26 Mei 2024 M
Lokasi: Rumah Dakwah Muhammadiyah & Aisyiyah Ulujami

Din (agama) dalam bahasa Arab berarti pembalasan. Din yang lurus adalah mengabdi kepada Allah dengan penuh keikhlasan.

Dalam Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Fatihah ayat 4-5, dijelaskan bahwa seorang hamba harus beribadah kepada Allah dan hanya meminta pertolongan kepada-Nya.

 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ۝ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ۝

Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan.

(QS. Al-Fatihah: 4-5)

Hal ini menjadi dasar dalam menegakkan salat dan menjalankan agama dengan penuh ketaatan.

Dalam Surat Fatir ayat 29-30 disebutkan:

إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ ۝ لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ ۚ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ ۝

Sesungguhnya orang-orang yang membaca kitab Allah dan mereka mendirikan salat dan mereka menafkahkan dari sebagian yang Kami rezekikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi, karena Allah mencukupkan pahala mereka dan menambah karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.

Allah juga menjelaskan dalam Surat Fatir ayat 32:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ ۝

Kemudian Kami mewariskan kitab kepada orang-orang yang Kami pilih dari hamba-hamba Kami maka di antara mereka ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada yang mendahului dalam berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.

Bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan:

  • Zalim terhadap diri sendiri
  • Pertengahan
  • Golongan yang berbuat kebaikan

Adapun balasan bagi orang beriman adalah surga, sebagaimana dalam Surat Fatir ayat 34-35, di mana mereka tidak merasakan lelah dan kesusahan.

 وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا الْحَزَنَ ۖ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ ۝ الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ الْمُقَامَةِ مِن فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلَا يَمَسُّنَا فِيهَا لُغُوبٌ ۝

Dan mereka berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dari kami kesedihan. Sungguh Tuhan kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri yang menempatkan kami di negeri yang kekal dari karunia-Nya, di dalamnya kami tidak merasa lelah dan lesu."

(QS. Fatir: 34-35)

Orang yang menjaga salat memiliki karakter yang baik, di antaranya:

  • Jujur
  • Berani
  • Bersih
  • Percaya diri
  • Menjaga kebersihan dan wewangian

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَا النِّسَاءُ والطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata: telah bersabda Rasulullah ﷺ: "Dijadikan dicintai kepadaku dari dunia; wewangian dan wanita dan dijadikan penyejuk mataku di dalam salat.
(HR. An-Nasa'i, Hadis Hasan)

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah salat berdampak pada akhlak dan kepribadian seseorang.

Membaca Al-Qur’an dengan Tartil

Membaca Al-Qur’an harus dilakukan dengan tartil dan dipahami maknanya. Dalam Surat Ghafir ayat 1-4 dijelaskan bahwa orang yang membaca Al-Qur’an akan diampuni dosanya, dan tidak semestinya memperdebatkan ayat-ayat Allah.

 حم ۝ تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ۝ غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ ۝ مَا يُجَادِلُ فِي آيَاتِ اللَّهِ إِلَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَا يَغْرُرْكَ تَقَلُّبُهُمْ فِي الْبِلَادِ ۝

Ha Mim. Turunnya kitab dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui,  Yang Mengampuni dosa dan Yang Menerima tobat serta sangat keras hukuman-Nya, Yang memiliki karunia. Tidak ada Tuhan selain Dia. Kepada-Nya lah tempat kembali. Tidak ada yang berdebat tentang ayat-ayat Allah kecuali orang-orang yang kafir maka janganlah engkau tertipu dengan peradaban (jelek) mereka di berbagai negeri

(QS. Ghafir: 1-4)

Dalam Surat Saba ayat 31 dijelaskan tentang penyesalan orang-orang kafir yang sombong dan tidak mau beriman.

 وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَن نُّؤْمِنَ بِهَٰذَا الْقُرْآنِ وَلَا بِالَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ ۗ وَلَوْ تَرَىٰ إِذِ الظَّالِمُونَ مَوْقُوفُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۖ يَرْجِعُ بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ الْقَوْلَ ۚ يَقُولُ الَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِلَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا لَوْلَا أَنتُمْ لَكُنَّا مُؤْمِنِينَ ۝

Dan berkata orang-orang yang kafir,  "Kami tidak akan beriman kepada Al-Qur’an ini dan tidak (pula) kepada kitab yang sebelumnya." Dan sekiranya engkau melihat ketika orang-orang zalim dihadapkan di sisi Tuhan mereka, sebagian mereka saling mengembalikan perkataan; orang-orang yang dianggap lemah berkata  kepada orang-orang yang menyombongkan diri, "Kalau bukan karena kalian, niscaya kami termasuk orang-orang beriman."

(QS. Saba': 31)

Sikap Kita sebagai Seorang Mukmin

Seorang mukmin bukanlah pribadi yang suka meminta-minta, tetapi berusaha mandiri dan mampu memberi kepada orang lain.

Namun demikian, iman harus tetap dijaga. Karena ada contoh dari sahabat awal Islam, yaitu Ubaidillah, yang sempat masuk Islam pada periode Mekkah tetapi kemudian murtad di Etiopia dan wafat dalam keadaan tidak beriman.

Sementara istrinya, Ummu Habibah, tetap istiqamah dalam Islam hingga akhir hayatnya.

Mudah-mudahan kajian ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk terus menegakkan salat, tidak kendor, dan tetap istiqamah di jalan Allah.

Semoga bermanfaat dan menjadi pengingat bagi kita semua.