Kajian Putusan Tarjih: Iman kepada Hari Akhir

Pemateri: Ustadz Abdurrahman Wahid, M.Pd.
Penyelenggara: PCM Pesanggrahan
Tuan Rumah: PRM Petukangan Selatan
Lokasi: Masjid Al-Amin Pesanggrahan Permai

Hakikat Kehidupan dan Kematian

Manusia di dunia ini diibaratkan seperti tidur, dan ketika mati barulah terbangun. Hal ini karena manusia sering melakukan sesuatu dalam keadaan tidak sadar, kemudian ketika dibangkitkan baru tersadar bahwa semua perbuatannya akan dimintai pertanggungjawaban.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din pada pembahasan Dzikir al-Maut wa ma Ba’dahu menjelaskan hakikat kematian sebagai berikut:

اعْلَمْ أَنَّ الْمَوْتَ لَيْسَ بِفَنَاءٍ مَحْضٍ، وَلَا انْعِدَامٍ صِرْفٍ، بَلْ هُوَ مُفَارَقَةُ الرُّوحِ لِلْبَدَنِ، وَانْتِقَالٌ مِنْ دَارٍ إِلَى دَارٍ

“Ketahuilah bahwa kematian itu bukanlah kefanaan murni dan bukan pula ketiadaan total, melainkan perpisahan ruh dari badan dan perpindahan dari satu alam ke alam yang lain.”

Keyakinan pada Hari Akhir

زَعَمَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ لَنْ يُبْعَثُوا ۚ قُلْ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبْعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلْتُمْ ۚ وَذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah: "Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti akan dibangkitkan, kemudian diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." Yang demikian itu mudah bagi Allah.

(QS. At-Taghabun: 7)

Perbedaan antara keyakinan Muslim dan kaum musyrik terletak pada pemahaman tentang kematian. Dalam Islam, kematian adalah perpindahan alam, bukan reinkarnasi.

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا ۖ وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَىٰ يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Hingga apabila datang kematian kepada salah seorang dari mereka, ia berkata: "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan." Sekali-kali tidak! Itu sebatas ucapan saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.

(QS. Al-Mu'minun: 99-100)

Sehingga, adab yang diajarkan Nabi ﷺ ketika berziarah ke kuburan adalah mengucapkan salam kepada para penghuni kubur, sebagaimana beliau mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ، نَسْأَلُ اللَّهَ لَنَا وَلَكُمُ الْعَافِيَةَ

“Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai penghuni negeri (kubur) dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Sesungguhnya kami, in syaa Allah, akan menyusul kalian. Kami memohon kepada Allah keselamatan untuk kami dan kalian.”
(HR. Muslim)

Dengan demikian, secara hakikat manusia tidak mengalami ketiadaan setelah mati. Apabila seseorang meninggal dunia, maka yang terjadi adalah perpisahan antara ruh dan jasad. Jasad akan hancur, tetapi ruh tetap ada dan yang akan dimintai pertanggungjawaban adalah ruh tersebut. Dalam kondisi apa pun—baik jasad hancur, dimakan hewan, maupun musnah—ruh tetap utuh dan akan menjalani kehidupan di alam barzakh.

Konsep iman seperti ini banyak disampaikan pada periode Makkah, sehingga ayat-ayat tentang hari akhir yang turun didominasi oleh ayat Makkiyah, bukan Madaniyah.

Pembahasan tentang iman setelah kepada Allah, didominasi iman kepada hari akhir. Sebagaimana contoh beberapa hadis Nabi berikut:

  • “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kata “din” tidak hanya berarti agama, tetapi juga bermakna balasan atau pertanggungjawaban. Karena itu, Yaumiddin adalah hari pembalasan, sama artinya dengan Yaumul Jaza’. Konteksnya berkaitan dengan hati, seseorang dapat hidup secara semena-mena apabila tidak meyakini adanya pertanggungjawaban di hari akhir.

Balasan Atas Perbuatan

كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُودُهُمْ بَدَّلْنَاهُمْ جُلُودًا غَيْرَهَا لِيَذُوقُوا الْعَذَابَ

Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain agar mereka merasakan azab.

(QS. An-Nisa': 56)

Hukuman terhadap orang yang berbuat syirik adalah kekal di dalam neraka. Namun, apabila mereka bertaubat, beriman, dan meninggal dalam keadaan beriman, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka.

Adapun orang yang beriman tetapi gemar melakukan maksiat karena lemahnya iman terhadap nikmatnya maksiat, maka mereka akan masuk ke dalam neraka sebagai bentuk penyucian (pembersihan dosa) sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam surga.

Percakapan Manusia Nanti

Surat Ash-Shaffat

50. Maka sebagian mereka berhadap-hadapan satu sama lain sambil bercakap-cakap.
51. Berkatalah seorang di antara mereka, "Sesungguhnya aku punya seorang teman,
52. yang berkata, 'Apakah sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang membenarkan (hari akhir)?'
53. Apabila kita telah mati kita menjadi tanah dan tulang-belulang, apakah sungguh kita diberi pembalasan?'
54. Dia berkata, "Maukah kamu menjadi saksi?"
55. Maka dia menjadi saksi, lalu dia melihat (orang tersebut) di tengah neraka yang menyala-nyala.
56. Dia berkata, "Demi Allah, sungguh engkau hampir mencelakakanku,
57. dan sekiranya bukan karena nikmat Tuhanku pastilah aku termasuk orang-orang yang diseret (ke neraka).

Penutup Kajian

Demikian kajian ini, maka pembahasan selanjutnya terkait Qadha dan Qadar.