Putusan Tarjih: Takbir Hari Raya

Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV

Nomor Kep. 17/SK-PP/II-A/1.a/2001 tanggal 15 Februari 2001
Lampiran III tentang Tuntunan Ramadan

Takbiran merupakan amalan yang dianjurkan pada malam hari raya Idulfitri dan Iduladha. Umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah setelah menyelesaikan ibadah puasa Ramadan atau dalam rangka menyambut hari raya kurban.

Dalam lingkungan Muhammadiyah, pedoman mengenai pelaksanaan takbiran dijelaskan dalam Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV Nomor Kep. 17/SK-PP/II-A/1.a/2001 tanggal 15 Februari 2001, khususnya pada Lampiran III tentang Tuntunan Ramadan.

Makna Takbir

Takbir merupakan ungkapan pengagungan kepada Allah yang dibaca dengan lafaz:

 اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

atau

 اللّٰهُ أَكْبَرُ اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

Sebagaimana atsar sahabat Nabi:

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ قَالَ قُلْتُ لِأَبِي إِسْحَاقَ كَيْفَ كَانَ يُكَبِّرُ عَلِيٌّ وَعَبْدُ اللَّهِ قَالَ كَانَا يَقُولَانِ:

« اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ »

Sanad:
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun yang berkata, telah menceritakan kepada kami Syarik yang berkata, aku telah bertanya kepada Abu Ishaq bagaimana cara bertakbir Ali dan Abdullah, dia menjawab bahwa keduanya (bertakbir): 

Matan:
“Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Allah Maha besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah segala puji.”

Riwayat. Ibn Abi Shaybah dalam  Al-Musannaf pada pembahasan seputar takbir.

Atsar lain:

عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ، قَالَ: كَانَ سَلْمَانُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُعَلِّمُنَا التَّكْبِيرَ، يَقُولُ: كَبِّرُوا، اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا

Dari Abu Utsman an-Nahdi, dia telah berkata: “Beliau Salman (semoga Allah meridai beliau) mengajarkan kami bertakbir, dia berkata: bertakbirlah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar dengan kebesaran-Nya.”

Riwayat. Baihaqi dalam Sunan al-Kubra. Bab: Takbir pada dua hari raya

Waktu Pelaksanaan Takbiran

1. Takbir Mutlak

Takbir mutlak adalah takbir yang tidak terikat waktu atau kondisi tertentu. Takbir ini dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam.

Contohnya:

  • pada malam Idulfitri
  • pada malam Iduladha
  • pada hari-hari awal bulan Dzulhijjah

2. Takbir Muqayyad

Takbir muqayyad adalah takbir yang dibaca setelah shalat fardu (wajib). Pelaksanaannya didasarkan pada atsar para sahabat, di antaranya:

  • Ali ibn Abi Talib
  • Abdullah ibn Masud

yang menunjukkan bahwa takbir dilakukan:

  • mulai setelah shalat Subuh pada tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah)
  • sampai setelah shalat Ashar pada tanggal 13 Dzulhijjah (akhir hari Tasyriq)

Takbir ini dibaca setiap selesai shalat fardu sebagai bentuk pengagungan kepada Allah pada hari-hari yang mulia.

Dalam Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV, dijelaskan bahwa riwayat tentang takbiran pada malam hari berstatus lemah. Namun demikian, para ulama melakukan ijtihad bahwa bertakbir pada malam hari hingga pelaksanaan shalat Idulfitri tetap dapat diamalkan, dengan berlandaskan firman Allah dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 185).

Adapun pada Iduladha, takbir disyariatkan sejak hari Arafah hingga hari-hari Tasyriq, yang didasarkan pada atsar para sahabat, di antaranya sebagai berikut:

عَنْ شَقِيقٍ قَالَ:  كَانَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ غَدَاةَ عَرَفَةَ، ثُمَّ لَا يَقْطَعُ حَتَّى يُصَلِّيَ الْإِمَامُ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ، ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ

Dari Syaqiq dia telah berkata: “Dia 'Ali (semoga Allah meridai beliau) mulai bertakbir setelah salat fajr pada pagi hari Arafah, kemudian tidaklah berhenti sampai imam melaksanakan salat (Ashr) pada akhir hari-hari Tasyriq, lalu beliau bertakbir setelah 'Ashr.”

Riwayat. Baihaqi dalam Sunan al-Kubra. Bab: Takbir pada dua hari raya

Berikut dalil terkait takbir di pagi hari raya:

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ: كُنَّا نُؤْمَرُ بِالْخُرُوجِ فِي الْعِيدَيْنِ وَالْمُخَبَّأَةُ وَالْبِكْرُ قَالَتْ الْحُيَّضُ يَخْرُجْنَ فَيَكُنَّ خَلْفَ النَّاسِ يُكَبِّرْنَ مَعَ النَّاسِ

Dari Umm Athiyyah dia telah berkata: “Kami (perempuan) dahulu diperintahkan untuk keluar di dua hari raya (Idulfitri dan Iduladha) termasuk perempuan rumahan dan perempuan gadis.” Dia berkata (pula) bahwa, “Perempuan haid keluar lalu mereka berada di bagian belakang orang-orang ikut bertakbir bersama.”

HR. Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim. Kitab:  Salat Dua Hari Raya. Bab: Keluarnya para wanita ke tempat 'Ied dan menghadiri khutbah

Cara Pelaksanaan Takbiran

Takbiran dianjurkan dengan memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tahlil. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara berjamaah di masjid atau secara pribadi di rumah dan di berbagai tempat sebagai bentuk dzikir kepada Allah.

Tujuan utama takbiran adalah menghidupkan syiar Islam dan memperbanyak dzikir, sehingga pelaksanaannya hendaknya dilakukan dengan penuh kekhusyukan serta menjaga nilai ibadah.

Tentang Penggunaan Musik dan Bedug

Dalam tuntunan tarjih Muhammadiyah, takbiran dianjurkan untuk difokuskan pada pembacaan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk ibadah. Oleh karena itu, pelaksanaan takbiran tidak dianjurkan disertai unsur hiburan seperti penggunaan alat musik seperti bedug atau kegiatan yang dapat mengurangi kekhusyukan dzikir.

Karena itu, pelaksanaan takbiran lebih dianjurkan dilakukan dengan cara membaca kalimat takbir secara langsung oleh jamaah, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri, tanpa disertai kegiatan yang bersifat hiburan.

Tujuan Takbiran

  • Mengagungkan Allah atas nikmat yang diberikan.
  • Mengekspresikan rasa syukur setelah menjalankan ibadah Ramadan.
  • Menyambut hari raya dengan dzikir dan ibadah.
  • Menghidupkan syiar Islam di tengah masyarakat.

Penutup

Takbiran merupakan bagian dari syiar Islam yang dianjurkan pada malam hari raya. Pelaksanaannya hendaknya tetap menjaga nilai ibadah, kesederhanaan, dan kekhusyukan sebagaimana dijelaskan dalam keputusan tarjih Muhammadiyah.